| Yang Tersisa dari Malang Tempo Doeloe |
| Ditulis oleh Abdul Cholik, S.S. | |
| Thursday, 11 June 2009 | |
|
Perhelatan Malang Tempo Doeloe (Malang Kembali) kapan hari itu memang sungguh wah. Acara yang disuguhkan Pemerintah Kota Malang ini selalu dibanjiri pengunjung. Acara ini memang disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai magnet tersendiri bagi para pengunjung untuk tidak melewatkan moment ini. Selain karena nuansa yang dibangun sangat berbeda dengan acara-acara semacam lainnya, konten yang ada di dalamnya juga tak kalah seru. Sehingga sampai perhelatan yang keempatnya ini, para pengunjung sepertinya tak kurang antusias. Karena itulah, untuk kali ini keinginann untuk meliput acara tahunan kemudian saya post ke www.tirtapena.asia cukup membuat saya tak mau ketinggalan dan pengin nimbrung dengan mereka.
Saat malam pembukaan, saya sudah janjian dengan salah seorang teman freelancer fotographer yang kebetulan ikut lomba sayembara photography, salah satu acara yang disajikan di Malang Tempo Doeloe, untuk bersama-sama jeprat-jepret mencari momen indah untuk ditangkap kilatan blitz kamera kami. Setelah memarkir motor di tempat yang lumayan dekat dengan pintu masuk, kamera sudah kami keluarkan dari bungkusnya. Di depan situ beberapa pengunjung sudah berpakaian dengan bermacam-macam model. Namun, kebanyakan tidak memakai dresscode yang disarankjan panitia, setelan baju model tempo doeloe. Termasuk kami, yang sama-sama memakai jaket, karena khawatir hujan akan mengguyur Kota Malang, apalagi sejak siang harinya, gumpalan mendung masih menyelimuti langit di atas kami. Melewati pintu masuk di dekat bundaran di depan Poltekes, nuansa zaman dulu langgsung menyeruak. Keadaan lumayan gelap. Bedak-bedak kiri kanan yang menjajakan makanan dan souvenir hanya menggunakan penerangan lampu minyak. Ditambah para penjualnya juga berbusana lawas. Yang wanita ber-sewek dan yang pria berikat kepala. Berbagai macam jajanan dan makanan ala pedesaan zaman dulu, seakan menemukan daya tariknya disini, sehingga laris manis. Berbagai macam diorama, orang-orangan sawah, “para pejuang kemerdekaan” yang sedang patroli, none-none londo juga banyak mengambil bagian. Semuanya bisa saling menambah nuansa dan wawasan ke-zamandulu-an. Kebanyakan tulisan dieja tempo doeloe, walaupun ada juga pedagang yang nulisnya salah. Yang, tidak saya dengar malam itu adalah lantunan musik, keroncong, campursari, gending, yang disuguhkan kepada para pengunjung warung, yang ada saat itu justru yang berirama jazz. Berjalan lurus ke depan, arah jalan ijen, nuansa tempo doeloe mulai berkurang, karena lampu mercury penerangan jalan ijen membuka tabir kamuflase yang dibuat semua yang disitu. Wadah-wadah makanan yang berbahan plastik kelihatan, dan segala bentuk produk zaman modern, semacam banner, papan nama, dll juga tak bisa disembunyikan. Di beberapa sudut dan tempat juga disediakan area tematik khusus, semisal arean untuk jajanan, budaya, kesenian, pendidikan, sponsorship, dll, dilengkapi dengan program acara pagelarannya semisal pertunjukan ludruk, gambus, dsb. So, jadi deh acara tambah seeruuu dan bernuansa ngalam banget. Mungkin hal ini kesan yang bisa didapat sebagaina besar pengunjung. Selain hal diatas, bagi saya pribadi perhelatan Malang Tempo Doeloe memberikan saya nostalgia Namun, saat ini, keadaan seperti ini sepertinya sudah berubah. Hawa dingin tidak sedingin dulu. Sekitar jam 9-an pagi saja sudah terasa panas, gerah kadang. Entah mungkin ini dipengaruhi pemansan global yang sedang lagi hot diperbincangkan saat ini, atau entah karena memang wajah Ah, entahlah, bagi saya, Banyaknya warga pendatang inilah yang membuat permintaan akan barang dan jasa meningkat. Di mulai dari kos-kosan, warung-warung kelas “tukang becak” sampai restoran kelas bos banyak disediakan. Diikuti dengan ruko-ruko dan plaza. Ini semua membuat perputaran uang di Karena angan-angan kehidupan yang menjanjikan kesejahteraan inilah, tak sedikit juga warga dari luar Memang ngelumpuk-nya segini banyak orang selain memberi manfaat juga tak sedikit yang menghasilkan negative side effect. Berbagai macam manusia dengan berbagai macam pula latar belakang adat budayanya memberikan pengaruh yang selain baik juga jelek. Free sex, narkoba, miras, perilaku kriminal, penularan penyakit dan sebagainya merupakan permasalahan yang pernah mampir di Di sisi lain, sejak BBM dinaik(turunkan) beberapa saat lalu, masih menyisakan permasalahan di Fuh… begitu rumit dan pelik ya. Coba kita telisisk sisi kehidupan di Kota Malang yang lainnya. a. Lingkungan dan Sistem Tata Kota Walau tergolong sebagai daerah pedalaman, pada tahun 1400-an, Akhir abad ke-18, Kota Malang dipilih meneer en mevrouw (tuan dan nyonya Belanda) menjadi tempat peristirahatan. Selain karena Setelah statusnya berubah menjadi Kotapraja Dari sinilah permasalahan biasanya muncul. Jika terdapat kesalahan dalam perencanaan dan perancangan sistem tata Sebagai contoh adalah pembangunan atau perluasan jalan raya, atau pendirian bangunan fasilitas publik di dekat jalan raya. Hal yang perlu diprioritaskan adalah penekanan dampak negatif bagi lingkungan dengan melihat semua aspek yang ada di dalam sistem transportasi, mulai dari perencanaan sistem transportasi, model transportasi, sarana, pola aliran lalu lintas, jenis mesin kendaraan dan bahan bakar yang digunakan berdasarkan prinsip hemat energi dan berwawasan lingkungan, ditambah dua prinsip pokok, yaitu, pemindahan barang dan manusia yang dilakukan dalam jumlah terbesar dan jarak terkecil, serta daya dukung wilayah (sesuai perencanaan kota) dan sistem transportasi terhadap jumlah kendaraan. Jika hal ini tidak diperhatikan kesemrawutan lalu lintas yang akan muncul dan menjadi masalah. Tidak termasuk efek negatif yang akan muncul bagi lingkungan. Kita akui bahwa Sejalan dengan semakin pesatnya perkembangan kota Malang (menjamurnya ruko, hypermart, dan meningkatnya jumlah kendaran bermotor) yang tidak diimbangi dengan kemampuan pemerintah kota mempertahankan area terbuka hijau, kurangnya perluasan dan pembenahan fasilitas publik yang seharusnya dapat diakses warga kota, dan kecepatan perkembangan kota yang seringkali berbenturan dengan peraturan perundangan daerah yang berlaku, menghadapkan Kota Malang ke permasalahan lingkungan yang cukup berat. Hal yang disebut sebelumnya bisa dijadikan contoh. Kasus penyelewengan Perda nomor 7 tahun 2001 termasuk perubahan guna lahan eks-APP sebagai ruang terbuka hijau dirubah menjadi perumahan mewah, dibangunnya lapangan Rampal menjadi sport center dan kompleks pertokoan (ruko) yang seharusnya merupakan ruang terbuka hijau (RTH), dan pembangunan MATOS yang sempat “menghangat” dulu merupakan contoh lain bahwa seharusnya pemerintah kota lebih istiqomah memegang komitmen mengawal rencana tata ruang kota dan seharusnya lebih konsisten terhadap apa yang sudah direncanakan (sesuai RTRW), dan tak lupa berupaya mengimbangi kecepatan pembangunan kota dengan memperbaiki dan memperbanyak fasilitas publik yang menyandarkan pada keberlanjutan lingkungan hidup. Permasalahan seperti ini mungkin terjadi lantaran beberapa hal. Diantaranya, penentu kebijakan kurang mampu membaca dan memahami tatanan perencanaan dan perancangan lama yang sudah ada. Acap kali penentu kebijakan berganti, maka berganti pula perencanaan dan perancangan Yang kedua, belum adanya rencana tata ruang b. Pendidikan Kelebihan lain yang dikenal dari Kota Malang adalah pendidikannya. Sekolah-sekolah peninggalan Belanda seperti HIS (setingkat SD), Mulo (SLTP), AMS (SMU), dan HBS (Perguruan Tinggi) secara historis menjadikan pendidikan bukan sebagai sesuatu yang asing bagi warga kota. Terlebih lagi ketika Perguruan Tinggi Pendidikan Guru – sekarang Universitas Negeri Malang – didirikan pada bulan Oktober 1954. Pada saat itu Setelah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) sebagai universitas terealisasi, Malang memiliki tiga universitas negeri sekaligus, mendampingi Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang yang sudah lebih dulu berdiri. Selain itu, dari institusi pendidikan dibawah perguruan tinggi terjadi peningkatan, diantaranya sekolah yang membuka pendidikan inklusif (untuk siswa ABK) menjadi 23 buah, dan jumlah SBI di Malang juga bertambah menjadi sekitar 12 buah sekolah. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa kualitas pendiidkan di Menurut data dari Diknas Pendidikan Kota Malang bahwa jumlah sekolah dasar di Kota Malang yang akan digratiskan pada 2009 mendatang bakal bertambah. Dari yang ada saat ini sekitar 67 sekolah dasar, dimungkinkan akan bertambah menjadi sekitar 100-an sekolah. Sekolah dasar gratis adalah sekolah yang tidak memungut SPP (sumbangan penyelenggaraan pendidikan) maupun SBPP (sumbangan bantuan pengembangan pendidikan) dari orang tua siswa. Walaupun demikian, sebagai sebuah Nah, sekiranya segini dulu deh, untuk sekedar merenungi berbagai macam tugas kita semua yang belum terlaksana. Memang ini semua tanggung jawab kita. Tak ada salahnya kita termenung dulu untuk kita memikirkan lebih dalam, mengkoreksi dan berkaca, mencari sisi mana yang perlu ada perbaikan dan perubahan. Mudah-mudahan setelah kita sejenak bernostalgia masa lalu di Malang Tempo Doeloe kapan hari itu, memberi kita semangat baru untuk ikut bersama membangun
|
|
| Terakhir Diperbaharui ( Thursday, 11 June 2009 ) |