Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, Continue Reading »
Akhirnya Ramadlan tahun ini pun sudah selesai. Setelah selama sebulan yang penuh perjuangan, penuh pengorbanan, dan penuh dengan “penderitaan” dan dengan berbgaia macam janji balasan pahala dan berbagai macam bonus melimpah dari Allah SWT yang tidak akan pernah diingkrin-Nya, akhirnya sekarang kita memasuki Hari Raya Idul Fitri.
Kehadiran seorang anak bagi sebuah keluarga, kebanyakan menganggapnya sebagai sebuah keharusan. Bagi pasangan muda, anak merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu. Bukan hanya tanda cinta sejati mereka sudah datang, tapi juga kehadiran anak bisa lebih merekatkan hubungan dua keluarga besar (mertua) mereka berdua. Apalagi bagi pasangan yang sudah berumur, kehadiran sang buah hati merupakan penghias rumah yang harmonis. Kehadiran seorang putra seakan mengobati kerinduan akan seorang penerus cita-cita keluarga. Terlebih bagi seorang ulama, usahawan, tokoh, pejuang rakyat, kehadiran seorang putra merupakan harapan awal bagi keberlanjutan apa-apa yang mereka lakukan dan perjuangkan. Seperti halnya kisah kelahiran Nabi Ismail a.s. dan Siti Maryam
Tak heran jika beberapa orang tua yang belum dikaruniai seorang putra begitu bersungguh-sungguhnya usaha mereka untuk memperoleh keturunan. Dimulai dari usaha medis, seperti konsultasi ke dokter kandungan, bayi tabung, dsb, sampai ke usaha non-medis, semisal lelaku aneh sampai konsultasi ke orang “pintar”.