|
Awas, Kekeringan Dimana-mana Siang tadi, ketika menonton televisi, (entah saya lupa nama programnya), sang pemandu acara menyapa penonton, “Panas-panas begini, enaknya makan apa ya? Makan rujak,..” Dan bla, bla, bla. Saya sempat teringat dengan perut saya yang keroncongan saat itu, namun saya lebih banyak teringat keadaan kamar saya yang kalau malam dingin sekali udaranya, dan kalau siang panas sekali. Maklum, kamar saya berada di lantai dua, lantai teratas. Walau jendela sudah dibuka lebar-lebar, pas waktunya bangun tidur siang, badan terasa kurang fit, karena selama tidur, saya seringnya terbangun karena kepanasan Yah, mau apa lagi. Sekarang mah cuacanya kadang sulit ditebak. Khususnya di daerah Malang. Sebentar-sebentar mendung, setelah itu panas lagi. Namanya aja musim kemarau. Pastinya cuacanya panas lah, banyak debu beterbangan, tak terkecuali sumur-sumur mulai kering. Tak heran para penjual es sekarang sudah mulai panen untung, dan orang-orang pada sakit batuk, mungkin alergi debu.
Tapi, cerita “duka” karena musim kemarau tahun ini bukan hanya terjadi di kamar saya. Jika kita menengok keluar jendela kehidupan kita, justru lebih banyak duka (yang ini beneran duka) yang terjadi di belahan bumi Jawa Timur ini. Tentunya kita gak harus keliling toh untuk sekedar tahu apa yang mereka alami. Cukup tongkrongin TV (asal jangan melulu infotainment), baca koran, atau browsing internet, kita akan cukup banyak disuguhi beberapa berita tentang kekeringan dimana-mana.
Setidaknya warga dari empat kecamatan di Kabupaten Madiun, bulan Juni kemarin mulai menjerit. Pasalnya, air waduk Dawuhan yang menjadi tumpuan harapan mereka untuk mengairi persawahan mereka sudah susut lima puluh persen. Dengan terpaksa, mereka pun harus mengorek kantong lebih dalam untuk membeli solar sebagai bahan bakar mesin pompa yang mereka sewa untuk mengairi sawah mereka. Itu harus mereka lakukan daripada mengahadapi kerugian lebih banyak jika sawah mereka tidak diairi.
|