Awalnya, saat saya nyantri di Malang, sebuah file di disket yang berikon MS Word dengan title “Puisi Cinta” dan semacamnya bertebaran banyak, bahkan di dalam setiap folder. Saya di lihat di komputer yang ada di rentalan pesantren juga banyak. Bahkan komputer redaktur buletin dan koran dinding pesantren juga terinfeksi. Karena banyak pekerjaan, dan si virus cukup menghambat, metode penghapusan manual virus saya lakukan. Dengan pakai fitur search dengan nama file, ekstensi serta ukuran fielnya saya sertakan, sambil menyimpulkan senyum kecil di bibir, saya hapus dengan sekali tekan tombol “delete” di keyboard. Fantastis dan otomatis semua file virus ini terhapus. Horee…
Tapi mendadak layar komputer menjadi blank, CPU me-restart sendiri, setelah itu muncul tulisan sinis semacam ini, “sudah aku bilang untuk tidak menghapusku, bla bla bla. Setelah itu, keluar tulisan “Deleting windows …” diikuti presentase progres proses penghapusan. Dyeng…saya pun gigit jari, komputer redaktur macet.
Perhelatan Malang Tempo Doeloe (Malang Kembali) kapan hari itu memang sungguh wah. Acara yang disuguhkan Pemerintah Kota Malang ini selalu dibanjiri pengunjung. Acara ini memang disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai magnet tersendiri bagi para pengunjung untuk tidak melewatkan moment ini. Selain karena nuansa yang dibangun sangat berbeda dengan acara-acara semacam lainnya, konten yang ada di dalamnya juga tak kalah seru. Sehingga sampai perhelatan yang keempatnya ini, para pengunjung sepertinya tak kurang antusias. Karena itulah, untuk kali ini keinginann untuk meliput acara tahunan kemudian saya post ke www.tirtapena.asia cukup membuat saya tak mau ketinggalan dan pengin nimbrung dengan mereka.
Ada tragedi unik saat outbound di
perusahaan kami mencapai angkatan ke 12-nya. Saat itu, salah satu rakit dari
salah satu kelompok terbalik sesaat setelah lepas
sauh. Rakit yang ditumpangi beberapa petinggi perusahaan ini, diantaranya
Pak Harianto, Bu Vonni, Pak Hari Seno, langsung terbalik menumpahkan seluruh
penumpangnya ke air waduk Selorejo. Alhasil, tak satupun dari penumpang yang
bisa menghindarkan diri dari tragedi ini. Namun tak ada ekspresi kecewa, malah
gelak tawa yang tersemburat di wajah mereka. Bukan hanya karena mereka baru
saja berhasil menemukan cara yang salah membuat rakit dengan tong, dibalik itu
mereka baru saja mereka mendapat mengalami pelajaran customer excellent service.
Itulah
secuil pengalaman pahit yang rasanya manis. Tentunya banyak sekali kisah-kisah sejenis
yang pasti dialami oleh Anda yang pernah atau malah hobi ikut kegiatan outing
seperti ini. Ada
yang keserimpet tali, mandi tepung, kecemplung, kepanasan dan bahkan sampek uji nyali di Solo Camping
(katanya sih ada yang sampe melihat "penampakan" makhluk aneh). Wah-wah betapa kasihannya. Kok berani sampai sebegitunya ya?
Beberapa orang menjadi bingung ketika terapaksa menjual barang yang dimiliki. baik barang yang sangat disayangi maupun kurang disayangi. Bingung harus dijual kemana dan harga berapa pantasnya. Mungkin kita fokus berfikir perlu adanya jasa perantara untuk menjual.. baik itu properti, komputer, televisi atau apapun tapi jelas perlu dana lebih untuk hal ini.