Dalam konteks kehidupan manusia dewasa, waktu-waktu yang kita jalani seharian pastinya berlalu tanpa tidak melakukan sebuah kegiatan apapun. Di pagi hari, bangun tidur, sholat shubuh bagi yang muslim, berolahraga, membersihkan rumah, mandi, memasak, sarapan, bekerja dan pulang bekerja di sore harinya. Sehabis itu, kadang kala kita melanjutkan mengerjakan tugas-tugas dari kantor yang belum rampung, serta tidak lupa mengurus keluarga. Ini belum termasuk kegiatan kondisional yang tiap orang tentunya berbeda, semisal bagi Anda yang seorang ketua sebuah yayasan sosial, pasti meluangkan beberapa jam dari 24 jam seharinya untuk ngurusi dan ngemong yayasannya. Anda yang seorang anggota sebuah klub kendaraan antik, pasti juga akan meluangkan waktu malam minggunya walau untuk sekedar nongkrong dan ngobrol dengan sesama teman sesama clubber. Tak terkecuali bagi seorang blogger tulen, sepertinya waktu 24 jam pun masih kurang setiap harinya untuk memeloti layar monitor komputer PC atau laptopnya.
Banyak orang ketika mendengar kata pensiun saja yang terbayang adalah masa tua yang membosankan. Waktu-waktu yang terlewatkan hanya sebatas kegiatan yang itu-itu saja. Keadaan ini bisa jadi sedikit berbeda bagi mereka yang memelihara binatang peliharaan, menyibukkan dirinya dengan bercengkerama dengan hewan yang dipeliharanya seperti burung beo yang bisa menyapa tamu dengan “Assalamualaikum”, memberi makan koleksi ikan maskoki yang berlenggak-lenggok dalam aquarium di ruang tamu, ataupun menyirami kumpulan bunga gelombang cinta dan jemani yang ada di belakang rumah. Mereka yang mempunyai keluarga besar, bisa ikut momong cucu kelima yang baru lahir dua minggu yang lalu. Atau, mereka ynag punya bisnis di luaran, bisa menghabiskan waktu mengawasi karyawan yang sedang bekerja lembur. Namun, bagi mereka yang tidak “seberuntung” itu apa yang harus mereka lakukan? Menghabiskan waktu di teras rumah sambil baca koran? Bisa jadi. Menyumbangkan pikiiran dan tenaga untuk aktifitas sosial? Mungkin. Hal ini tergantung mereka bagaimana mengaturnya.